Sabtu, 30 Januari 2010

[salafiyyin] Menyikapi Orang Awam

Menyikapi Orang Awam
Oleh : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewwed

Memang, marah karena Allah termasuk hikmah. Bahkan, tanda keimanan seseorang
pun ditandai dengan marah dan benci karena Allah. Yaitu, marah dan benci
terhadap kekufuran, kebid’ahan dan kemaksiatan.

Tetapi bersabarlah! Kendalikan emosi. Siapa tahu mereka itu orang-orang bodoh
yang membutuhkan pelajaran. Kalau itu yang terjadi, ajarilah mereka dengan
lemah lembut!
Anas bin Malik radhiyallahu `anhu pernah mengatakan : “Aku pernah berjalan
bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam saat beliau mengenakan jubah
dari Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba datanglah seorang Arab gunung dan
menarik jubah beliau secara keras. Akibat perbuatannya itu, aku melihat bekas
tarikan tersebut pada sisi pundak beliau. Kemudian dia (orang Arab gunung itu)
berucap : 'Wahai Muhammad, perintahkanlah, bahwa harta Allah yang ada padamu
untukku.' Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melihat kepadanya dan
tersenyum seraya memerintahkan untuk memberikan harta kepadanya.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Contoh lain adalah kisah Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami, yang mengatakan :
“Ketika aku shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba
ada seseorang dari satu kaum yang bersin. Maka aku mengucapkan yarhamukallah.
Ketika semua orang melemparkan pandangannya kepadaku, sehingga aku berkata :
'Duhai ibuku yang kehilangan aku, ada apa kalian melihatku?' Mereka lalu
menepuk tangan mereka ke pahanya. Ketika aku lihat, mereka menyuruh aku diam,
lantas aku pun diam. Setelah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selesai
shalat --dengan bapak dan ibuku-- sungguh aku belum pernah melihat seorang
pengajar pun yang lebih baik pengajarannya dari beliau shallallahu `alaihi wa
sallam. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula
mencelaku. Beliau bersabda:
'Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikit pun ada ucapan manusia.
Sesungguhnya shalat adalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.' " (HR.. Muslim
dalam kitab Masajid bab Tahrimul Kalam fish Shalah)
Demikian pula sikap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap seorang
pemuda yang meminta ijin untuk berzina. Seperti diungkapkan Abu Umamah :
“Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu
`alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat
itu, orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya mengatakan, ‘Mah, mah!’
Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk
mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau. Pemuda itu pun mendekat. Kemudian
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau kalau hal
ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya.
‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada
ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda
itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu
terjadi pada
anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku
sebagai jaminanmu’ Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak menyukai
hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’ Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah
engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu menjawab,
‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Lalu beliau
bersabda, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara
perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah /
saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak, demi
Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Kemudian Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada
bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan, ‘Sukakah engkau jika hal itu
terjadi pada bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu,
‘Tidak, demi
Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi
wa sallam menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi
(khalah) mereka.’ ” Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah
meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan :
‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah
kemaluannya.’ " (Kisah ini dinukil dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh
Al-Albani dalam Silsilah no. 370)
Kelembutan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun ditunjukkan pula
terhadap seorang Arab gunung lainnya yang kencing di masjid. Anas bin Malik
mengisahkan : “Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab kampung. Orang itu lantas
berdiri dan kencing di masjid. Maka (bangkitlah) para shahabat Rasulullah
membentaknya seraya membentak, ‘Mah, mah!’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa
sallam lantas mencegah para para sahabat sambil bersabda, ‘Jangan kalian
putuskan kencingnya. Biarkan dia.’
Maka para shahabat pun membiarkannya sampai ia selesai. Kemudian Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam memanggilnya dan menasehatinya, ‘Sesungguhnya
masjid ini tidak patut sedikit pun untuk tempat buang air, (begitu pula) buang
untuk kotoran. Masjid ini merupakan tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat
dan membaca Al Qur’an.’
Kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil seember air dan menyiramkannya.”
(HR. Muslim)
Tidak hanya sampai di sini, kesabaran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
terhadap orang-orang bodoh. Bahkan, dalam riwayat Bukhari masih berlanjut kisah
orang Arab gunung tersebut. Yaitu, ketika Rasulullah dan para shahabat shalat
bersamanya, maka orang tadi berdoa dalam shalatnya, “Ya Allah, rahmatilah aku
dan Muhammad dan janganlah engkau rahmati seorang pun selain kami."
Maka ketika selesai shalat beliau bersabda, "Sungguh engkau telah mempersempit
yang luas."
Yang dimaksud adalah rahmat Allah yang luas.
Demikianlah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyikapi seorang yang
memang bodoh, membutuhkan pengajaran dan pendidikan. Ketika orang Arab gunung
itu setelah faqih (memahami agama) dia katakan, “Ayah dan ibuku sebagai
jaminan. Sungguh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bangkit kepadaku tanpa
mencela, menghardik atau pun memukulku.”
Selain itu kita juga dapati sifat ta`anni beliau shallallahu `alaihi wa sallam
ketika para shahabat membentak si orang gunung tersebut. Beliau malah
mengatakan, “Biarkan dia”. Hal itu karena beliau berfikir dan melihat sisi
hikmah, yaitu jika dibentak dan diganggu ketika dia sedang buang air, akan
membawa dampak negatif yang lebih banyak. Bisa jadi najis dari kencingnya akan
berceceran di tempat yang lebih luas, atau najis itu bisa saja mengenai
pakaiannya. Bahkan, justru akan menjadikan penyakit bagi orang tersebut karena
menahan kencing dan lainnya.
Demikianlah semestinya sikap seorang mukmin, apalagi dia seorang da’i.
Janganlah segera bersikap emosional, bersifatlah ta`anni. Perlakukanlah
orang-orang awam dan jahil dengan sabar serta ajarilah mereka dengan lemah
lembut.
Adapun orang-orang bodoh yang tidak mau mengerti perkataan orang, tinggalkanlah
dan hindarilah dia dengan baik dan ucapkanlah ucapan yang baik. Allah berfirman
dalam mengungkapkan sifat hamba-hamba-Nya :
“Hamba-hamba Allah yang Maha Rahman adalah orang-orang yang berjalan di muka
bumi dengan rendah hati. Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka, mereka
mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (Al-Furqan: 63)
Saat menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Yaitu jika
orang-orang bodoh mengganggu mereka dengan ucapan yang jelek, mereka tidak
membalasnya dengan yang semisal. Bahkan mereka memaafkan dan memaklumi serta
tidak mengucapkan selain kebaikan semata. Sebagaimana Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam tidak membalas kerasnya kejahilan seseorang melainkan dengan
kelembutan yang amat sangat.”
Dikisahkan dalam sebuah riwayat, seorang mencela orang lain kemudian orang yang
dicela tersebut mengatakan alaikas salam (semoga keselamatan atasmu).
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang mendengar ucapan itu langsung
menegur, “Ketahuilah, sesungguhnya malaikat (yang menyaksikan) di antara kalian
berdua membelamu. Setiap dia mencelamu malaikat itu berkata, ‘Bahkan engkau!
Engkau lebih berhak dengannya!’ Sedang ketika engkau mengucapkan kepadanya,
'alaikas salam,' malaikat itu berkata, ‘bahkan atasmu! Engkau lebih berhak
dengannya.' " (HR. Ahmad 5 / 445, Kata Ibnu Katsir sanadnya hasan. Lihat
Al-Hikmah hal. 61)
Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan berpaling dari orang-orang bodoh.
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf serta
berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A`raf: 199)
Berkenaan dengan ayat ini, kita tengok riwayat Umar bin Khattab. Dikatakan Ibnu
Abbas : “Uyainah bin Hishn bin Huzaijah datang dan singgah di rumah saudaranya,
Al-Har bin Qais. Beliau adalah salah seorang yang dekat dengan Umar bin
Khattab. Pada waktu itu para pembaca Al Qur’an merupakan teman-teman duduk Umar
dan tempat bermusyawarah, baik orang tua atau pun pemuda. Berkatalah Uyainah
kepada anak saudaranya itu, ‘Wahai anak saudaraku, engkau memiliki kedudukan di
sisi khalifah. Maka mintalah ijin agar aku diperkenankan menemuinya.’
Berkatalah Al-Har, ‘Aku akan mintakan ijin untukmu.’ " Ibnu Abbas mengungkapkan
kisah selanjutnya : “Kemudian Al-Har bin Qais memintakan ijin kepada Umar.
Seketika itu Umar mengijinkannya. Ketika menghadap Umar, Uyainah ucapkan,
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, engkau tidak memberi kami banyak. Tidak pula
menghukumi kami dengan adil.’ Lantaran itu, marahlah Umar. Nyaris dilakukan
sesuatu oleh Umar
terhadapnya. Tetapi Al-Har malah mengucapkan, ‘Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya Allah berfirman kepada Nabi-Nya :
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta
berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al A'raf :199)
Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang bodoh.”
Demi Allah, Umar radliyallahu `anhu tidak melampaui apa yang dikatakan dalam
ayat tersebut. Beliau memang seorang yang selalu ‘berhenti’ pada apa yang
dikatakan pada kitab Allah.” (HR. Al-Bukhari, lihat Al-Hikmah hal. 62)
Demikianlah sikap Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika diberitahu bahwa ia
(yang menghadap beliau) adalah orang bodoh. Sikap beliau tidak keluar dari apa
yang dikatakan oleh Allah :
“Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang
yang bodoh.”
Wallahu ‘a’lam

http://www.mail-archive.com/salafiyyin@yahoogroups.com/msg00342.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar